Kajian Sirah Sahabat setiap malam rabu yang diampu oleh Ustad Asdi Nur Kholis (3/1) mengangkat kisah seorang sahabat yang termasuk Assabiqunal Awwalun yaitu Suhaib bin Sinan Ar-Rumi. Sahabat ini merupakan sosok yang sangat luar biasa dan akan membuat membuat kita terkagum-kagum setelah membaca kisahnya. Para pembaca yang budiman, mari kita simak kata demi kata kisah dari sahabat yang mulai ini.

Suhaib bin Sinan Ar-Rumi seorang arab asli, Ayahnya dari kabilah Numairi dan Ibunya dari bani Tamim. Walaupun di belakang namanya ada kata Ar-Rumi tapi dia bukan berasal dari romawi. Beliau lebih terkenal dengan nama Suhaib Ar-Rumi dan beliau tinggal di Bashrah. Suhaib memiliki wajah yang tampan dan rambut pirang serta kulit yang putih.

Ketika berusia 5 tahun, dia bersama ibunya pergi ke sebuah desa di Iraq untuk silaturahmi dengan kerabatnya. Ketika itu, desa tersebut sedang diserang oleh bangsa romawi. Pasukan romawi membantai orang-orang yang ada di kampung tersebut, menjarah harta penduduk dan banyak yang menjadi tawanan. Suhaib kecil menjadi salah satu tawanan dan dibawa ke negeri Romawi. Ketika tiba di Romawi, Suhaib menjadi barang dagangan di pasar orang-orang Romawi untuk dijadikan budak. Mau tidak mau dia memeluk agama Nasrani.

Saban hari Suhaib mendengar seorang pendeta bahwa sebentar lagi akan tiba saatnya kemunculan seorang Nabi yang diutus oleh Allah dari bangsa arab yang akan membenarkan risalah yang dibawa oleh Nabi Isa Alaihissalam. Suhaib kemudian kabur membelah panasnya padang pasir menuju Makkah dan bersiap menyambut Rasul yang akan diutus. Orang-orang arab lantas memanggilnya Suhaib Ar-Rumi karena lisannya tidak fasih berbahasa arab. Di Makkah, Suhaib datang sebagai orang asing dan tidak punya apa-apa. Sebagai seorang yang tak memiliki kedudukan di kalangan bangsa arab, beliau menjadi budak seorang saudagar yang bernama Abdullah bin Jud’an. Oleh karena kejujuran dan ketekunan, perdagangan menjadi untung berlipat. Suhaib menjadi saudagar kaya di Makkah. Dibalik itu semua, misi untuk bertemu sanga Nabi Terakhir tidak padam bahkan timbul tanya dihatinya. Beliau lantas mencuri-curi tau dan bertanya kabar tentang hal tersebut kepada orang-orang.

Tempo hari Suhaib mendengar kabar dari kafilah dagang bahwa telah diangkat seorang rasul bernama Muhammad bin Abdullah yang mengajak berbuat adil dan jujur serta beramar ma’ruf nahi munkar. Lantas beliau bertanya kepada kabilah dagang “Bukankah ia bergelar Al-Amin ?”, kafilah dagang membenarkan hal tersebut. Dari kafilah dagang, Suhaib mengetahui bahwa Rasulullah bisa ditemui di rumah Al-Arqam bin Abil Arqam. Ketika sampai di rumah Al-Arqam bin Abil Arqam, beliau bertemu dengan sahabat Ammar bin Yasir yang termasuk Assabiqunal Awwalun. Mereka menyimak apa yang disampaikan Rasulullah dan seketika itu cahaya iman merekah di hati-hati mereka kemudian Suhaib bersyahadat dihadapan Rasulullah.

Penyiksaan fisik dan intimidasi dari orang-orang Quraisy tak luput menyapa Suhaib sebagaimana yang dirasakan oleh sahabat-sahabat yang beriman diawal kemunculan islam seperti Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir dan Sumayyah. Hal tersebut membuat iman mereka semakin kokoh. Mereka menyadari bahwa jalan menuju surga penuh onak dan duri. Sungguh Allah menguji hambanya sesuai dengan kadar keimanannya.

Tiba saatnya, Rasulullah menyeru sahabat untuk berhijrah ke kota Madinah. Suhaib kemudian ber-azzam untuk menjadi teman hijrah Rasulullah bersama dengan Abu Bakar As-Shiddiq. Orang Quraisy diam-diam mencium rencana ini sehingga berhasil menawan Suhaib. Setelah Rasulullah berhijrah, Suhaib berharap untuk bisa menyusul. Tak berapa lama Suhaib berhasil melakukan tipu daya terhadap penjaga dan berhasil kabur untuk menuju Madinah.
Ternyata orang-orang Quraisy berusaha keras untuk menahan Suhaib karena mereka tidak rela harta beliau dibawa ke Madinah. Suhaib kemudian memberi tau letak harta-harta yang ada di rumahnya di Makkah. Suhaib kemudian dilepaskan dan dibiarkan pergi menuju Madinah.

Kita bisa melihat bagaimana keimanan yang di hati beliau, seakan dunia ini tidak berarti apa-apa baginya. Niatnya bukan lagi untuk dunia, akan tetapi untuk kehidupan yang kekal di akhirat. Tekad untuk hijrah tidak bisa lagi di tawar, meskipun tak membawa harta sedikit pun. Tidak ada penyesalan sama sekali terhadap harta yang telah dikumpulkannya itu.

Beliau menempuh perjalanan jauh nan melelahkan dari Makkah menuju Madinah seorang diri, setiap kali lelah menyapa, teringat kerinduan akan Rasulullah sehingga beliau menjadi semangat lagi melanjutkan perjalanan. Setelah sampai di Quba, Rasulullah menyambut Suhaib dengan wajah berseri-seri seraya berucap “Sungguh perniagaan yang menguntungkan wahai Abu Yahya”. Wajah yang tadinya lusuh bekas perjalanan jauh seketika dihiasi rona kebahagiaan.
Apa yang telah diusahakan selama ini, perniagaan, lelah, capek dari perdagangan dan harta yang ditinggalkan di Makkah semata-mata hanya karena Allah. Allah menggati semua itu dengan kebahagiaan dunia akhirat. Inilah sebab turunnya wahyu dari langit yang dibawa Malaikat Jibril:

“Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (Q.S. Al-Baqarah 207).

Suhaib bin Sinan Ar-Rumi wafat tahun 38 H pada usia 73 tahun dan dimakamkan di pemakaman Baqi’ di samping Masjid Nabawi, Madinah. Wallahu A’lam.